Awalnya saya sedikit kaget sekaligus terperangain melihat berita di Liputan 6 Siang, tentang terkuaknya kekerasan yang terjadi di SMAN 70 Jakarta, yang notabene sekolah ini adalah salah satu sekolah favorit di sana. perasaan marah, sedih, geram, dll berkecamuk ketika melihat berita tersebut. Bagaimana tidak, aksi kekerasan yang dilakukan siswa kelas XII kepada siswa kelas X maupun XI bukanlah aksi kekerasan berlevel rendah, namun sudah memasuki taraf tinggi, atau bisa dibilang kriminalitas tingkat satu. Jika anda belum melihat beritanya, ini saya sisipkan video yang saya ambil dari web Liputan 6 :
Sadis bukan? Tentu saja. Jika anda orang tua, coba bayangkan jika anak anda yang disakiti seperti itu, atau anak anda yang melakukan kekerasan seperti itu? Apakah anda emosi anda tidak membucah ruah? Sudah jelas. Jika anda seorang mahasiswa atau siswa seperti saya? Bayangkan jika itu terjadi pada diri anda? Sudah jelas sama seperti sebelumnya, anda akan naik pitam. Bagaimana tidak, perilaku kekerasan seperti itu bukan lagi dalam kewajaran pemikiran manusia, melainkan sudah seperti binatang. Yang patut dipertanyakan, apakah mereka itu benar - benar siswa yang masuk ke sekolah favorit? Seperti itukah siswa yang dibilang siswa yang berprestasi (dalam hal ini, bisa lolos ke sekolah favorit) ? Tentu saja kapabilitasnya perlu dipertanyakan.
Di pihak sekolah pun dirasa atau memang kenyataannya tidak memiliki tindakan yang tegas. Hanya merumahkan mereka (istilah halus dari DO!). Hanya seperti itu? Tidakkah pihak sekolah memikirkan orang tua yang anaknya sedang disiksa di sekolah mereka tersebut? Apakah itu yang disebut seorang guru? Iya? Cihhh,, Kalo iya, guru macam apa dia? Percuma saja para mahasiswa berdemo demi kesejahteraan guru tetapi pada kenyataannya tetap saja guru seperti itu? Perjuangan mahasiswa seperti tidak berarti.
Dalam berita yang saya lihat, bahwa kekerasan yang terpublikasikan adalah kekerasan tahun 2006, dan ternyata, kekerasan ini telah berlangsung mulai dari tahun 2001. Begh, kemana saja selama ini pihak sekolah? Sudah lebih dari 5 tahun siswa mereka berkelakuan seperti binatang, masih saja didiamkan. Aneh.. Sekolah seperti ini bisa dikatakan sekolah favorit.
Dari webblog nya SMAN 70 Jakarta ini, saya mendapatkan klarifikasi atas kekerasan yang terjadi di sana, berikut isinya :
Gw sangat gak suka dengan cara BUSER memberitakan kekerasan di SMA 70. Karena itu dari sudut pandang anak yang mau-mau aja disuruh sama kakak kelas 3. Memang ada penindasan di SMA 70 tapi gk semuanya karena salah pihak sekolah yang lalai. Gini ceritanya…… (maaf ya kak aku beberin ceritanya soalnya aku masih sekolah di 70 jgn sampe deh nama 70 jelek pas aku skolah disna).
Di 70 ada kumpulan orang-orang yang sering disebut anak angkatan. Anak angkatan ini adalah orang-orang yang waktu MOS kelas satunya menuruti semua perintah agit diantaranya disuruh ke mendawai, ke citos malem-malem, ke tangga agit, ke kantin, dsb. Mereka-mereka itulah yang dipalak oleh pihak agit. Gak jelas juga alasannya kenapa mereka mau-mau aja nurutin kata agit untuk pergi ke sana pergi ke sini. Tapi yang gw tau jelas mereka rela-rela aja gak konsen belajar untuk ngitungin duit setoran dan pergi dari satu kelas ke kelas lain untuk melakukan “kolekan”. Mereka juga malah bersemangat jika diperintahkan untuk jadi seksi dana di acara “BulCup”.
Soal kekerasan yang terjadi pada anak laki-lakinya, mereka malah bangga kalau bisa memenuhi setoran dan bisa nongkrong bareng agit di lamandau. Gak semua yang diberita itu bener. Ternyata dari pihak utas sendiri ada kerelaan untuk diperlakukan spt itu. Bayangkan aja sudah ditindas, diperas, dan dipermalukan, masih aja ada temen saya yang bilang begini, “agit-agit itu sebenernya baik, mereka sayang sama kita. Kita tu digituin biar mentalnya kuat dan siap untuk dunia kampus. Mereka juga baik bgd kok sma gw” tuu kan berarti menandakan dia rela rela aja.
Sangking relanya anak utas gk ada yang buka rahasia ke guru-guru. Gak ada satupun. Semua menutupi dan melindungi agit-agitnya sampai sistemnya susah terlacak sama pihak sekolah. Jadilah pihak sekolah susah mengetahui dan menghukum anak- anak yang mendalangi pemalakan. Kn katanya jika ketahuan memalak dan segala macam lainnya itu akan diberi sanksi ya jelas gk ada yang diberi sangsi, orang malaknya gk di sekolah dan gak ada satupun anak utas angkatan yang mau lapor kalo dipalak.
Jadi sebetulnya gak semua anak utas 70 digebukin hanya anak angkatannya aja. Aku sendiri ni kan salah satu bukti nyata anak yang bisa selamat dari proses perekrutan anak angkatan. Dan aku damai-damai aja tuuh sekolah di sana. Asal mengikuti budaya yang ada jangan cari masalah. Kayak kalo ngelewatin agit ya nunduk ajalah jangan sok pamer dagu, atau jajan di kantin yang udah ditentuin lah. Udah hampir 4/5 bulan aku sekolah disana dan gak ada satu goresan pun yang ditimbulkan oleh agit. Semua tergantung orangnya.
Jadi berita di buser itu keliatan gak adil ya… Karena 70 jadi keliatan jelek bgd mestinya yang diangkat juga profilnya anak-anak nya pejabat atau oran g-orang kaya yang melakukan pemalakan itu, bukannya cuma sekolah doang.
Jadi siapa pun kamu yang baca ini aku harap bisa lebih tau keadaan saya dan temen-temen seangkatan di 70.
Dapat disimpulkan bahwa mereka mengatakan hanya segelintir siswa yang melakukan hal tersebut. Segelintir?? Gila apa.. Pepatah pernah mengatakan bahwa :
Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga
Itulah yang menggambarkan dari pernyataan di atas..
Menanggapi aksi kekerasan ini, saya teringat tentang kerusuhan yang terjadi di Jakarta juga, antar mahasiswa UKI dan mahasiswa YAI, beriikut saya sisipkan videonya yang saya ambil lagi dari Buser :
Miris bukan? Apakah mahasiswa - mahasiswa di atas adalah hasil dari didikan - didikan kekerasan yang terjadi selama SMA mereka? Dimana para mahasiswa lain menuntut ilmu demi memajukan bangsa dan negaranya, mereka malah menghancurkan martabat bangsa dan negaranya. Lebih sakit, mereka adalah mahasiswa, yang dikatakan adalah sebagai penyambung lidah rakyat, benarkah? Ha3x, jawablah dengan hati nurani anda, jika anda mahasiswa, pikirkan dan renungkanlah.
Beberapa berita diatas tidak lain tidak bukan adalah cerminan masa depan bangsa kita kedepan. Bagaimana tidak, tunas - tunas bangsa bukan lagi menimba ilmu sebanyak mungkin, tidak lagi memikirkan baaimana bangsa ini bisa maju, melainkan hanya bermain, tawuran, dan melakukan hal yang sangat tidak bermanfaat. Apakah mereka bodoh? Kurang perhatian? Saya rasa tidak, hanya saja mereka tidak lagi menggunakan akal dan pikiran mereka. Jika hal ini berlanjut ke masa yang akan datang? Benar saja, refleksi para pejabat kita masa kini bisa saja terulang di masa mendatang. Tidak adakkah suatu perbuatan yang bisa membanggakan bangsa dan negara? Gilaaaaaaaaaaaa….
Terakhir, saya minta maaf jika tulisan saya di atas terasa keras, namun saya menulis apa adanya. Saya menulis menurut sudut pandang saya dan didasari oleh banyak bukti, tidak hanya menurut pendapat saya. Sekali lagi, jika ada yang merasa tersinggun, saya mohon maaf yang sebesar - besarnya.

3 Responses to “Kekerasan & Kerusuhan Cermin Masa Depan Bangsa”
PERTAMAX. .
Kgiatan kya gtu mah dah biasa di sma. .
Tpi, gk SELEBAY itu. . *ckckck*
Waduh, sabar bozz..
Umm.. ini bicarain tentang apa ya..
Bentar, aku baca dulu ya artikelnya..
hmm..
actually yang namanya Media itu selalu bikin berita ya emang di “lebay”in..
karena biar punya nilai jual..
tapi apapun bentuknya..
selebay apapun yang diberitain media..
aku sangat menentang kekerasan dimanapun,kapanpun dan apapun bentuknya..
apalagi di Institusi Pendidikan..
ga di SMP atau SMA aja ya..
di perkuliahan yang kata orang udah lebih “bebas” aku juga sangat menentang..
bagaiman masa depan bangsa ini kalau penerusnya menjunjung kekerasan..?